sidikfakta.com | Wonosobo – Bagi masyarakat Kalisuren, Kertek, Wonosobo, Kiai Umar yang diperingati haulnya setiap bulan Dzulhijjah bertempat di Komplek Masjid Al-Umdah Kalisuren, Suren Gede,
Kertek, Wobosobo, Minggu 4/6/2023 adalah sosok yang luar biasa. Dia memang hanya kiai kampung, tapi kiprahnya sangat nyata, masih dirasakan pengaruhnya sampai saat ini.
Selain Simbah Kyai Umar, masyarakat Kalisuren juga memperingati haul bersama untuk para tokoh, diantaranya; Simbah Kyai Fahrudin, Simbah Glondong Marzuki, Simbah Nyai Hj. Siti Fatimah.
KH. Nursyamsuddin, salah seorang cucunya menyampaikan, “acara haul Kyai Umar merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun, rangkaian acara haul Kyai Umar dimulai dengan ziarah ke makam pada pagi hari sebelum acara pengajian, dilanjutkan pembacaan Al-Qur’an 30 juz oleh dzuriyah Simbah Kyai Umar dan puncaknya adalah pengajian siang ini.”
Beliau juga menyampaikan keistimewaannya Simbah Kyai Umar adalah tidak pernah batal wudlu. Keistiqamahannya menjaga wudlu sehingga dia selalu dalam keadaan suci dari hadats, juga najis dan kotoran.
Karena selalu berwudlu itulah dia disebut dengan mutawadli yang dengan mudah dilafalkan dengan mutawali. Nama ini kemudian populer sampai saat ini, Kiai Umar Mutawali.
Jika dirunut, Kiai Umar Mutawali bersilsilah sampai HB-II. Dia putera Kiai Soleh (Sigedang, Kejajar) bin Kiai Sirajudin (Windusari, Magelang) bin Kiai Muhammad Nur atau dikenal dengan Kiai Landamsari, bin Kiai Nur Iman, Mlangi Jogja. Dari sinilah silsilahnya sampai ke HB-II.
Salah satu istri Kiai Umar Mutawali adalah Nyai Kustantiyah, putri KH. Raden Abdul Fatah, Sigedong, yang lahir di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, beliau ulama perintis pondok pesantren di Wonosobo, yang setiap tahun diperingati dan dihadiri para tokoh di Wonosobo.
Tausiyah disampaikan oleh KH. Agus Qosim Mawardi dari Butuh Kutoarjo Purworejo, beliau merupakan putra Ulama kharismatik KH. Toifur Mawardi Pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid Kedungsari, Purworejo, Jawa Tengah. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan kepada jamaah untuk selalu hidup rukun, dengan memuliakan sesama. “Orang beribadah, jika ibadahnya ingin diterima Allah SWT, harus bisa hidup rukun dengan sesama”, jelasnya.
Ia menambahkan, ciri keberhasilan salat di antaranya bisa berbuat baik kepada orang tua, anak, ulama, pemerintah, tetangga, saudara, dan antara suami istri.
Abdul Kholiq












